Pages

Jumat, 20 Juni 2014

Nikmati Proses Hijrahmu dengan Bersyukur



Syukur tiada henti, diucapkan kepada Allah, Tuhan pencipta alam semesta dan Dia lah satu-satunya pemberi rahmat. Rahmat yang terus menyelimuti makhluk-Nya di dunia. Itulah bukti kecintaan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidak ada alasan untuk kita sebagai makhluk-Nya untuk berhenti bersyukur kepada Allah. 

Segala bentuk hidayah yang telah diberikan-Nya kepada kita. Juga patut untuk disyukuri. Saya rasa segala sesuatu yang membuat kita  berusaha melakukan sesuatu sesuai dengan jalan kebenaran adalah bentuk hidayah yang diberikan Allah. Salah satunya memakai hijab. Tidak semua orang mampu menerima hidayah yang telah Allah berikan. Saya rasa, Allah telah memberikan hidayah-Nya kepada setiap muslimah, namun, ada sebagian yang belum mampu menerima-Nya. Mungkin hal ini disebabkan terlepasnya jiwa seseorang dari providernya. Maka hal ini patut disyukuri oleh setiap muslimah yang mampu menerima dan memahami hidayah-Nya. 

Alhamdulillahhirabbilalamin, Allah telah menetapkan Indonesia sebagai tempat untuk tinggal dan tumbuh bagi saya. Saya pikir, hal ini merupakan pemberian yang manis dari Allah yang harus saya jalani. Banyaknya penduduk Indonesia yang beragama Islam, adalah salah satu keuntungan saya dalam menambah ketaatan kepada-Nya. Banyaknya muslimah yang memakai hijab, menjadi suatu tradisi di Indonesia. Saling menghormati kepercayaan masing-masing manusia, merupakan prinsip yang dipegang teguh oleh Negara ini. Sehingga tidak ada penghalang bagi kami untuk menjalankan syariat-Nya termasuk memakai hijab.

Dari sekian banyak muslimah yang memakai hijab, adakah yang mampu memaknai arti hijab itu sendiri baginya? Bukan hanya membalut aurat dengan penutup. Tetapi hijab proses hijrah. Dengan memkai hijab, hal ini menunjukkan identitas seseorang sebagai muslimah. Ya, hijab adalah penunjuk identitas kita. Maka segala perbuatan, ucapan dan pemikiran kita akan menjadikan kita sebagai indicator seorang muslimah.

Sehingga, jelas dalam hal ini, sebagai seorang muslimah, kita memiliki kewajiban untuk berbuat baik, mengucapkan perkataan yang baik, pemikiran cerdas, dan menebarkan kedamaian. Rasulullah sebagai panutan kita telah memberikan tauladan yang baik kepada kita. Maka kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim yang taat untuk menjadi agen muslim yang baik. Mengenalkan Islam sebagai agama yang penuh rahmat, indah, dan penuh dengan perdamaian.

Agama Islam sebagai salah satu rahmat yang Allah berikan kepada kita. Islam adalah agama yang sempurna. Menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Agama yang telah mengatur segala bentuk tata cara kita menjalani kehidupan yang sementara ini. Maka bukankah perbuatan dzolim, apabila kita sebagai pemeluknya tidak menyampaikan agama ini dengan amanah? Melakukan perbuatan sesuai kadar dan tempatnya.

Memang Islam adalah agama yang sempurna, namun muslim tidak sepenuhnya sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Namun, jangan jadikan ketidaksempuarnaan itu membuat kita berlaku dzolim. Kita harus tetap menajadi agen muslim yang baik. Nikmati proses hijrahmu. Bersyukur kepada Allah atas identitas muslim kita. Bersyukur bisa dipahami bahwa kita harus menempatkan sesuatu pada tempatnya. Perbuatan yang baik, ucapan yang memberi kedamaian bagi siapa yang mendengarnya, pengetahuan yang merupakan milik-Nya terus disebarkan.

Maka dengan hijab yang telah kita gunakan, wajib bagi kita untuk terus berusaha menjadi muslimah yang luar biasa, terus melakukan perbaikan diri dan tidak berputus asa dalam prosesnya, melakukan yang terbaik untuk agama kita. Semua itu akan mengangkat kehormatan kita sebagai agen muslim yang baik di bumi Allah. Jangan biarkan agama sesempurna Islam menjadi tidak beharga karena kezoliman kita sebagai muslim.

Kamis, 19 Juni 2014

-




Lagi bersihin laptop tadi siang, tiba-tiba, nemuin tulisan saya sendiri yang belum sempet keposting. Ceritanya nulis ini waktu kelas X. Engga kebayang tulisan saya ternyata begini.

Jodoh

Judulnya aja udah berkesan angker. Engga tau kenapa tiba-tiba saya ingin menuliskan postingan tentang jodoh. Iya, mungkin judul diatas akan menjadi topic mistis disaat saya berumur 20 tahun ke atas. Bahkan jodoh saya telah lama menjadi sosok misterius. 

Iya, tiap orang telah memiliki jodohnya masing-masing. Pernyataan ini mampu menenangkan siapapun yang telah berputus asa untuk menemukan jodohnya. Saya setuju, karena jelas dalam kitab-Nya Allah telah mengatur manusia di dunia ini berpasang-pasangan. Tetapi kita tidak akan pernah tau jodoh kita sampai kita hidup dengan seseorang itu. 

Memang engga ada yang jelas untuk kita. Dengan siapa kita berjodoh hingga akhirnya kita telah hidup dengan orang itu? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang bercerai setelah mereka hidup 10 tahun ke atas bersama-sama? Entahlah.

Saya rasa, ketika perempuan telah dikhitbah oleh seorang pria. Hal itu merupakan titik awal dari kehidupan perempuan itu. Bagaimana dia harus memutuskan, menerima atau menolak? Merupakan keputusan yang harus dia ambil dengan bijak. Jangan terburu-buru. Salat istikharah bisa menjadi solusi. Karena dengan satu kata penerimaan atau penolakan, hal itu yang akan menjadi titik awal dia menjalani kehidupan selanjutnya 
hingga akhir hayat.

Seorang perempuan harus bisa memilih siapa imam yang pantas untuknya. Seorang imam yang mampu membimbingnya pada jalan Allah dan memimpinya untuk menuju syurga Allah. Ketaatan pada agama Allah adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh calon imam. Jika seorang imam tidak memiliki keimanan yang kuat, bagaimana dia akan membimbing istri dan anak-anaknya kelak? Bukankah Rasulullah telah menjelaskan bahwa dalam memilih seorang pasangan, agama adalah ukuran paling utama.

Sebagai manusia yang meyakini Allah dan Rasul, wajib bagi kita untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul. Lalu apakah kita hanya menganggap ukuran agama sebagai satu-satunya parameter dalam memilih calon imam?

Saya rasa, ketaatan kepada agama merupakan hal utama yang harus dijadikan parameter. Selain itu, ada hal-hal yang harus diperhatikan. Kesiapan lahir dan batin untuk menerima calon imam adalah hal yang penting. Jika perempuan telah memutuskan untuk menerima khitbah oleh seorang pria, maka perempuan harus benar-benar bisa member kasih sayang yang tulus. Jika tidak ada cinta dan kasih sayang, bagaimana perempuan bisa berbakti dan taat kepada sang imam?

Kesanggpan untuk mencintai dan berbagi kasih menurut saya adalah hal yang penting dalam membangun pondasi rumah tangga. Karena pernikahan adalah ibadah. Bagaiamana bisa kita melakukan ibadah namun nurani kita tersiksa?

Sebelum memberikan jawaban atas khitbah seorang laki-laki pada perempuan, perempuan harus memikirkan segala aspek. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Segala sesuatu yang dilakukan terburu-buru adalah hal yang tidak baik. Ketika seorang perempuan telah memberikan kepercayaan kepada seorang laki-laki, maka kewajiban keduanya adalah menjalankan kewajiban tersebut dengan amanah. Membangun rumah tangga dengan landasan Al-Qur’an dan Hadist, menyiapkan kader-kader umat beragama untuk generasi selanjutnya.

Jangan sampai, rumah tangga yang telah diniatkan semata-mata ibadah kepada Allah melenceng dari jalan yang telah dianjurkan. Atau bahkan memutuskan hubungan. Memang benar, memutuskan hubungan rumah tangga diperbolehkan dalam Islam, namun, bukankah hal itu adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Allah? Jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Karena dalam kehidupan ini, tidak ada yang kita cari selain Ridha Allah.

Makhluk Ojos

Jreng…jreng…..

Akhirnya bisa bernapas, setelah melewati dunia yang kejam. Sungguh dunia ini memang kejam. Mulai mendramatisir suasana. Biasa akhir-akhir ini banyak main drama, banyak dengerin drama. Oh, iya, ini mengingatkan kejadian kemarin sebelum masuk kelas ujian sbmptn, saya menderngar percakapan yang sangat drama oleh 2 cewe remaja.

A         : “Kamu tau engga? Aku engga di bbm dua hari sama dia!” dengan tampang menyedihkan.
Masih mending mbak, saya engga dicontact enam hari malah. heuheu
B         : “Eh, iya sumpah? Seriusan? Kok bisa sampe dua hari?” yang ini tampangnya kaget ekspresinya sangat sinetron.
Baru dua hari aja kagetnya kek keselek biji durian, gimana denger cerita saya?
A         : “Iya, terus tadi malem, aku telpon dia, eh dianya engga angkat.”
B         : “Terus, dia enggak balik hubungi kamu?”
A         : “Hubungin sih, dia kasih semangat tadi pagi. Tapi enggak aku balas.”
Tuh kan malah engga bersyukur, yang di sini, masih belum dicontact, engga dikasih semangat lagi! Harusnya gue yang lebih derama!!!!!

Kebayangkan, dunia ini kebanyakan drama. Sampe bingung harusnya yang drama siapa.

Oke, lupakan drama. Cause life is happening now! Sekarang mah tawakkal aja ya. God will do the rest of it. Bentar lagi liburan ye! Semoga bisa menjadi the real holiday. JOGJA!!

Lagi-lagi Jogja, padahal bulan kemarin udah kesana. Sebenarnya, saya mau tobat dengan engga travelling dulu. Niatnya pengen di rumah Tasik Malaya, bareng abi umi’ buat melewati kekhusukan bulan Ramadhan. Tapi lagi-lagi Allah memberi jalan kepada saya untuk travelling.
Kali ini dipaksa Ojos. Actually saya ke Jogja maunya tes di UGM. Tetapi berhubung abi bilang enggak ada feel di UGM, dan keluarga meminta untuk di sekitar Jawa Barat. Jadi yah, acaranya cuma liburan doang.

Tapi yah engga sehina itu lah, saya tetep ikut tesnya ntar, kan udah bayar. Sebenarnya yang ngajakin tes di UGM adalah saya, dan Ojos ngikut dengan iming-iming setelah tes kita bisa jalan. Dengan penuh cinta Ojos mulai untuk merancang kegiatan di Jogja, mulai tiket kereta dan hotel. Kalo ada dia mah semua beres. Perumpamaan disuruh ngubah danau jadi gunung mah dia bisa.

Jadi enggak enak kan kalo saya harus batalin? Right! Dan fix tanggal 21 ntar kami berangkat.
Nah, sifat Ojos yang selalu perfect dan ingin perjalanan yang engga rumit, menggagaskan bahwa dia akan membawa koper, yang isinya adalah bantal dan lain-lain. Yang ini ekspresi saya lansung sinetron banget. Jelas lah! Kami hanya pergi 3 hari dan dia ingin membawa koper. Ohmygod. Jos. Aku engga paham.

Kemudian dia mulai menjelaskan panjang lebar keutamaan membawa koper. Namun, semua terpatahkan ketika saya memberikan tatapan maut dan berkata, “Dilarang keras bawa koper!!!” ini sambil teriak. Dia lansung kalah telak. Karena percakapan usai seketika.
Jahat benerlah saya sama si Ojos. 

Nama aslinya sih Balgis, terus nama panggilannya Ajis, kalo lagi enggak normal saya manggilnya Ojos. Fakta yang harus dibeberkan bahwa dia setahun lebih tua dibanding saya. HAHAHA. Tapi tenang aja, meskipun kamu udah tua, aku tetep mencitai kamu kok, Jos. Niatnya, saya mau bikin sesuatu buat Ojos sebelum saya berangkat ke Bandung. Semoga menjadi barang misterius sampai usai Ramadhan.

Thanks Jos udah mau nemenin disaat-saat yang berat. Karena terkadang kita harus menerima hidup ketika dihadapkan pada posisi yang paling bawah, karena dengan itu kita akan tau, siapa sebenarnya yang akan selalu mendampingi kita. Itu sih. Dia yang paling sosweet lah. Saya bersyukur Allah mempertemukan saya sama makhluk ini. Enam tahun untuk selamanya atuh ya Jos. 

Semangat buat tanggal 21 Jos!!!!

Sabtu, 07 Juni 2014

PEJUANG!

SEDIKIT KEABNORMALAN DI DETIKDETIK MENUJU SBMPTN.

MOHON DOANYA YAH.



 
Put more effort. Be positive, everything will be great in the end. Bismillah~

Sabtu, 31 Mei 2014

AKU BANGGA JADI ANAK MADRASAH!!




Ceritanya malam ini saya ingin drama. Ini tentang kisah penolakan terhadap saya. Dramanya mulai. Ngetik postingan ini sambil nangis. Becanda. Saya udah cape nangis, air matanya udah abis. Tragedi 27 Mei, adalah tragedi saya ditolak. Rasa sakit itu sebenarnya hadir karena kita menaruh harapan pada sesuatu yang tidak tercapai. Ya, seujurnya saya menaruh harapan, meski selalu ada rencana kedua. Rasanya............... ditolak dengan tulisan tinta merah itu, ah, iya, sedikit menyedihkan. Fine, lupakan.

Setelah itu, abi saya dengan tabahnya, beliau berkata "yaudah yuk, 2 universitas kemarin lansung di konfirmasi. Dan cepat daftar jalur yang lain." 

Setelahnya di rumah engga ada pembahasan masalah penolakan. Kata abi, engga ada yang patut disesali, usaha dan doa udah dilakukan. Saya rasa Allah ingin memberikan jalan yang lain pada saya. Karena untuk mencapai suatu kesuksesan ada banyak jalan. Iya, saya percaya Allah menuntun saya dengan jalan yang berbeda.

Ah, iya, setelah kontak dengan salah satu teman saya yang sudah siap pakai almamter ku*ing. Dia mengirim pesan, "Eh, bisanya? Kaget gue. Elu sih madrasah, didiskriminasi kan"

Ya, bisa jadi itu salah satu faktor. Tapi andaikan saya harus gagal karena identitas ini, saya enggak pernah menyesal. Karena ilmu yang saya dapatkan, jauh lebih penting. Kalaupun saya hidup pada kehidupan selanjutnya, maka, saya akan tetap memilih madrasah.

Makanya nih saya capslock "AKU BANGGA JADI ANAK MADRASAH!!"

Dalam hal ini umi berperan penting, yah, ini karena umi selalu mengajarkan untuk menjadi cermin. Penerimaan merupakan hal yang penting, intropeksi juga hal yang penting. Dan sebagai seorang ayah yang baik, abi selalu mendorong saya untuk menjadi lilin, yang bisa terang dan berkompetisi lagi.

Faktanya, hidup itu selalu lilin, cermin, dan kembali lagi. Ya, itulah siklus! 

Senin, 26 Mei 2014

Beda Spesies




Sebenarnya saya ingin membicarakan masalah cinta beda spesies. Sungguh ini advice tebijak dalam hidup saya, jika kamu terjebak dalam cinta yang beda spesies, maka silahkan dipikir kembali! Sebenarnya ini subjektif sih, tapi entah mengapa saya merasa sangat terluka dengan cinta beda spesies. Oke, penggunaan diksi bahasa saya mulai derama. Ciri-ciri pasangan yang beda spesies adalah kamus diksi bahasa kalian berbeda dan dia tidak memahami bahasa yang kamu gunakan.

Contoh Kasus :
Kamse mengirim pesan pada Upay pukul 12.00
Kamse  : “Aku bimbel dulu ya.”
Upay     : “Oke, sem…sem..mangat atuh Se belajarnya.” *baubaunya ini baru jadian.
Kamse mengirim pesan pada Upay pukul 15.30
Kamse  : “Duh, cape baru selesai nguli.” *Maksud nguli adalah nguli (mempelajari) ilmu.
Upay     : “Nguli apaan?” *Seriusan ini si Upay enggak belajar makna tersirat dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Jelas, ini namanya beda spesies. Jelas! Jika Kamse dan Upay dari spesies yang sama, maka hal ini tidak akan terjadi. Sungguh.

Kemudian, beda spesies akan berpengaruh pada bagaimana kalian berkomunikasi. Percaya enggak bakal nyambung. Jika masalah penggunaan diksi bahasa yang berbeda, Kamse dan Upay masih mungkin bisa untuk memperbaiki hubungan dan saling memahami kegilaan salah satu pasangan dan memahami karakter seriusnya pasangan yang lain. Tapi jika komunikasi yang enggak nyambung, ini FATAL!

Nah komunikasi tidak nyambung, akan berakibat pada bentuk ketidakpekaan Kamse atau Upay.

Contoh Kasus :
Kamse  : “Pay... lagi apa?”
Upay     : “Ini mau jalan sama temen.”
Kamse  : “Yahhhh…” *nadanya kecewa berat. Jelas dalam hal ini Kamse sangat mebutuhkan Upay..
Upay     : “Yaudah, aku jalan dulu ya.” *ini bener-bener enggak peka.

Sebenarnya jika saya brfikir menggunakan akal sehat saya, cinta beda spesies sih bahagia-bahagia aja.

Contoh extremenya adalah ponakan saya sebut saja Ipat. Jangan mikir macem-macem, dia masih SD, dan belum mengenal komplesnya problematika cinta seperti kita. Beberapa hari yang lalu, ketika saya pulang, Ipat punya pet baru (read:hamster) yang dia berinama “Deyo” seriusan ini dia tulis di keranjang petnya “Welcome to Rumah Deyo” dia nulis pake hmm, lipstick umi’. Setelah diusut kenapa si Ipat beri nama petnya dengan nama yang sama sekali tidak cute. Ternyata dia punya masalah sama temen sekelasnya, ya, kebetulan namaya “Deyo” dan dengan wajah innocentnya dia memutuskan untuk memberi nama hamster tersebut dengan nama “Deyo”.

Setiap pagi, Ipat membeir makan Deyo dengan penuh cinta, tidak pernah telat mengganti tempat minum, membersihkan kandang. Dan tidak pernah ngomel bila Deyo pup sembarangan. benar-benar cinta tanpa syarat. Dan Ipat sangat bahagia dengan Deyo, sampai dia lupa, bahwa bibiknya sedang pulang.
Sangat berbeda, dengan perlakuan Ipat kepada saya, dia selalu mengomel bila saya tidak menaruh komiknya di tempat semula, dan dia selalu ricuh bila saya menggunakan internet hingga dia gagal mendownload anime. Dan dia selalu mengusir saya untuk balik ke asrama.

Lama kelamaan, umi’ mulai tidak betah dengan adanya Deyo, saya mendengar gossip dari abi, bahwa Deyo membuat Ipat bermalas-malasan bimbel karena dia lebih memilih untuk bermain denga Deyo. Dan FIX ini membuat Deyo dikeluarkan dari rumah. Si Ipat nangis pasti, dia menghujat umi habis-habisan. *Canda mana berani dia. Dia mengurung diri di kamar. Dan ternyata umi saya sangat cerdik, beliau membelikan sepatu baru untuk Ipat, dan akhirnya Ipat kembali ceria dan jutek.

Nah, dari sini, faktanya cinta beda spesies, enggak akan bertahan lama. Ipat tidak galau akut setelah berpisah dengan Deyo. Hal ini berbeda kasus tentang hubungan diantara saya dan Ipat. Kami memiliki kosa kata yang sama, dan saling bertukar diksi kata. Kami memiliki kesamaan “jutek, mengesalkan, dan imajinatif.”

Contoh cinta tanpa sayarat kami adalah.
Ketika saya mengirimkan foto saya sehabis dari Jogja.
Saya      : “Liat nih foto bibik, keren kan?”
Ipat        : “Alah gendut bilang keren.”
Saya      : “IYA IH, KESYEEEL! AKU GENDUTAN, LEBIH GENDUT DIBANDING IPAAAT. SEBEL IHHHHH!”
Ipat        : “Lay!” *dia bermaksut nulis Alay
Saya      : “Eh, ngetik dulu yang bener, baru boleh ngece.”
Ipat        : “Biarin.”
Saya      : “Ipat ngambek ih. Maafkan.”
Oh, Ipat tidak membalas line dari bibik kesayangnya.
Saya      : “Pat, kangen ih.”
Saya      : “Kalo kamu.”
Ipat        : “Engga.”

Fine percakapan terputus. Saya enggak mau lajutin percakapan ini. Tapi, dibalik kejutekannya, dia paham kamus diksi saya dan kami memiliki bahasa yang sama (?) entahlah, dengan Ipat saya tidak harus mengetik panjang lebar. Karena jujur, saya benci mengetik percakapan dengan dua orang yang sangat panjang. Apalagi semenjak hp saya berubah menjadi touchscreen. Sungguh.

Dan ternyata cinta satu spesies kami sungguh mengharukan, ketika saya sakit, Ipat dengan sosweetnya berkata, “Bibik cepat sembuh.” Kemudian dia mengalami galau akut memikirkan saya.

Well, saya enggak melarang cinta beda spesies, jika kamu ingin belajar memahami kegilaan atau keflatan pasangan kamu, maka cinta beda spesies bisa jadi hal yang menyenangkan. Kalian bisa saling memahami. Jika tidak, maka cintailah yang satu spesies. Saya yakin dia akan mengenal kamu lebih baik.

Dan yang terpenting sebenarnya dalam satu hubungan (global) adalah kesediaan satu sama lain untuk menyediakan kuping, memberi saran, dan yang terpenting have the power to make dream come true.
Jadi bukan sekedar yang hanya mengucapkan,

“Morning, sleep well, sweet dream.” Blablabla. Jika hanya seperti itu, saya rasa jam weker bisa dikembangin menjadi mesin pengucap kata-kata tadi.


Dengan siapa itu entah sama atau beda spesies kalian pernah berusaha saling memahami dan medukung cita-cita kalian, jangan pernah menyesali, karena mungkin banyak pembelajaran yang telah ia berikan untukmu. 

Sabtu, 03 Mei 2014

Tragedi Hardiknas



Mistis enggak sih saya majang selamat hari pendidikan nasional?

Yaudah, intinya sangat mistis. kejadian sebenarnya bukan pada pendidikan nasionalnya. tapi pada hmm, ketika pagi hari pada tanggal 2 mei, sebut saja Ipat ponakanan saya mengirim line. 

Ipat : "Bibik?"

Saya : "Apaan?" *sebel kalo dipanggil bibik*

Ipat : "Bibik tau sekarang hari apa?"

Saya : "Taulah, pendidikan nasional kan?"

Dengan gaya sok-sok-an. Sebenernya lupa kalo hari pendidikan, tapi pas ambil sarapan, tiba-tiba mendengar percakapan.

Si A: "Loh, ntar ada upacara ya?"

Si B: "Iya."

Si A: "Dalam rangka apa? kan belum tanggal 17?" *maklum sekolah saya, upacaranya tiap tanggal 17 doang.*

Si B: "Astaga, Hari Pendidikan Nasional woy!"

Lanjut pada line Ipat.

Ipat : "Bibik salah!!!!!!" *seinget saya, tanda serunya lebih banyak daripada ini.*

Saya : "Apaan sih, Pat? Ipat pengen apa sih?"

Ipat lama sekali tidak menjawab line, dan hingga satu jam dia menjadi sosok misterius. saya memutuskan untuk mengirim stiker paling imut di line.

Dan....................................................................

Ipat : "Ini hari ulang tahunku!!!!" *tanda serunya makin berkurang, tapi emot nangisnya banyak bingit*

toeng, toeng, toeng. saya sangat merasa bersalah, harusnya saya ingat ulang tahun ponakan saya sendiri.

uwaaaaa, Ipat maaf yaaah......

Akhirnya, sebaai bibik yang baik saya mengirimkan kue ulang tahun, lewat line. HEHE, ampun Pat, ntar pas pulang gue bawain dah yang gede.

Nah, mau mosting foto Ipat keknya pada kesingsal di file. Pat, lagi-lagi maaf yaaaah.