Pages

Sabtu, 05 Oktober 2013

Minggu Pagi, Pasar Sayur



Ini cerita Minggu pagi saya, yang sangat menjengkelkan. Eh, nggak juga sih, nggak tau ah, absurd. Minggu pagi identik dengan apa? dalam kamus hidup saya adalah tidur sampe siang. Pasti di kamus pelajar lain juga nggak beda jauh. Sirna harapan minggu pagi untuk tidur, secara sebelum subuh, nyawa udah dipaksa masuk ke dalam raga oleh omelan umi’. Dan kebetulan dua kakak cewek saya pada maen ke rumah beserta suami dan anak-anak mereka. Bisa bayangin keadaan rumah yang biasanya suwung, berubah menjadi sangat ricuh, maklum weekend. Kakak cewek kedua saya ini sangat jail, dia nempelin kain basah di muka, capslock ya MUKA saya! Sepontan saya lansung bangun dan narik rambutnya, ini nggak patut diceritain, tapi kami bertiga kalo berantem  emang selalu pake kekerasan. Dan saya selalu jadi korban pembully-an. Maklum lah umur saya sama mereka beda jauh. Dan itu yang ngebuat mereka semena-mena sama anak bungsu!

Dan untuk apa saya bangun di PAGIBUTA hari ini? Ya, saya dipaksa nemenin umi’ dan kakak kedua saya sebut saja A untuk pergi ke pasar sayur. Heran, kenapa nggak beli aja di tukang sayur, ini malah ke pasar pagi buta gini. Akhirnya dengan berat hati, masih pake baju tidur, kerudung morat marit, tanpa hp, tanpa sandal, saya dipaksa naik ke mobil. Dan ya, meneruskan tidur saya. Si A nyetir mobil, sumpahan padahal dia SIM aja belum dapet. Bayangin, si A tiga kali tes SIM nggak pernah lulus. Parah kan? Dan umi’ saya yang paling seger diantara kami bertiga, jelas lah, beliau jam 3 pagi udah mandi, udah harum, memilih untuk ngidupin murotal. Dan sepanjang perjalanan si A curhat tentang ponakan saya, yang sangat bandel.

Dan…. Pasar sayur sangat ramai. Ini di luar dugaan, ada orang yang mau belanja jam segini. Dan untuk apa? ternyata orang-orang di sini adalah tukang sayur yang sukanya keliling kompleks pagi hari. Dan alasan umi’ saya dateng ke sini sebenernya untuk apa? Mau ngikut jual sayur di komplek? HAAAAAH? Enggak, enggak. Ternyata umi’ pengen dapet sayur segar untuk sarapan hari ini. Umi’ ini sangat antusias sekali cucu-cucunya datang, dan setiap kali saya pulang dari asrama nggak pernah umi’ rela-relain ke pasar sayur kayak ini. NEVER! Untung di mobil ada sandal nganggur dan saya keluar dari mobil buntutin umi’ dan si A. masih dalam setengah sadar, saya ngelihat mereka berdua lagi bersaing mungutin sayur segar dengan abang-abang yang suka keliling kompleks. Hah, sumpah saya di sini ceritanya useless. Dan oh, oh, si A memanggil saya. Dan saya mulai faham kenapa saya dipaksa bangun pagi buta ini. Dan kalian tau untuk apa? ya, saya diperbudak untuk membawa barang-barang mereka. Oh, God.. demi apa ini minggu pagi kan?

Oke, ini sedikit cerita tentang pasar sayur atau pasar tradisional yang ada di Indonesia.

Pasar adalah salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran yang sah seperti uang fiat. Kegiatan ini merupakan bagian dari perekonomian. Ini adalah pengaturan yang memungkinkan pembeli dan penjual untuk item pertukaran. Persaingan sangat penting dalam pasar, dan memisahkan pasar dari perdagangan. Dua orang mungkin melakukan perdagangan, tetapi dibutuhkan setidaknya tiga orang untuk memiliki pasar, sehingga ada persaingan pada setidaknya satu dari dua belah pihak. Pasar bervariasi dalam ukuran, jangkauan, skala geografis, lokasi jenis dan berbagai komunitas manusia, serta jenis barang dan jasa yang diperdagangkan.

Pengertian di atas sangat mainstream. Ini lebih menarik tentang pasar-pasar unik yang ada di Indonesia.

Selain Keindahan alam yang sangat banyak, Indonesia juga punya banyak keragaman Budaya. Kekayaan Budaya yang berbagai macam ini karena kita mempunyai banyak Suku dan sejarah yang berbeda beda. walau begitu salah satu keunikan Budaya di Indonesia adalah Pasar Tradisional. berikut adalah sebagian dari Pasar Pasar Tradisional di Indonesia yang unik.

Pasar Apung Muara Kuin Borneo

Pasar terapung merupakan tempat dimana Anda akan menyaksikan atau beraktivitas langsung di pasar sungai menggunakan perahu. Pasar terapung ini berlokasi di Banjarmasin tepatnya di persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Barito. Pasar terapung di Banjarmasin merupakan refleksi budaya orang Banjar yang telah berlangsung sejak dahulu. 

Di Kalimantan Selatan ada ratusan sungai menjadi jalur transportasi penting hingga sekarang. Tempat wisata pun bertumpu pada sungai, seperti pasar terapung Muara Kuin di Kota Banjarmasin ini. Saat Matahari terbit kunjungilah pasar ini yang memantulkan cahaya pagi hari di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Pasar Terapung Muara Kuin adalah pasar terapung tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah salat Subuh sampai selepas pukul 9 pagi. Keistimewaan di pasar ini adalah masih seringnya terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk. Para pedagang wanita (dukuh) yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. 
Banjarmasin sebagai ibu kota propinsi adalah pusat perdagangan dan pariwisata. Kota Banjarmasin mendapat julukanKota Air karena letak daratannya beberapa senti meter di bawah permukaan air laut. Kota Banjarmasin, memiliki luas sekitar 72 km per segi atau sekitar 0,22 persen luas wilayah Kalimantan Selatan. Kota ini dibelah oleh sungai Martapura memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakatnya terutama pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi air, perdagangan dan pariwisata. Selain pasar terapung di Muara Kuin Banjarmasin, pasar terapung lainnya yang dapat Anda temui adalah di Lok Baintan yang berada di atas Sungai Martapura.

Pada tahun 1526 Sultan Suriansyah mendirikan kerajaan di tepi sungai Kuin dan Barito yang kemudian menjadi cikal bakal kota Banjarmasin. Di tepian sungai inilah awalnya berlangsung pusat perdagangan tradisional berkembang. Pedagangnya menggunakan perahu kecil yang terbuat dari kayu. Para pedagang ini kebanyakan adalah perempuan yang mengenakan pakaian tanggui dan caping lebar khas Banjar yang terbuat dari daun rumbia.

Pasar Bolu Toraja 

Terletak di pusat wisata Toraja, Kota Rantepao, Pasar Bolu sudah terkenal sebagai objek wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasar ternak, demikian pasar ini juga dikenal, merupakan pusat penjualan kerbau dan buka sekali dalam 6 hari (sesuai jadwal hari pasar). Selain kerbau, babi juga dijual di pasar ini, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Sayur, buah-buahan, kopi, dan komoditi hasil bumi lainnya juga dapat ditemukan di pasar ini.

Pada saat hari pasar, jumlah kerbau yang diperjualbelikan dapat mencapai 500 ekor, apalagi saat akan diadakannya upacara-upacara adat. Selain banyaknya kerbau yang diperjualbelikan, pasar ini pun akan dipenuhi pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menyaksikan secara dekat kehidupan sebuah pasar ternak besar yang hanya ada di Toraja. Adapun harga kerbau yang diperjualbelikan mulai dari 5 juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. Warna dan ukuran tubuh kerbau adalah tolak ukur penentuan harga. Kerbau kecil berwarna hitam akan dihargai sekira 5 juta, kerbau hitam dengan ukuran agak besar berkisar 10-15 juta. Sementara itu, kerbau berwarna belang (Tedong Bonga), yang merupakan salah satu komoditas unggul, dapat dihargai puluhan juta rupiah. Sedangkan kerbau albino yang terbilang langka dapat dihargai lebih mahal lagi hingga mencapai ratusan juta rupiah

Itu beberapa cerita tentang pasar tradisional di Indonesia. Dan setelah sayur-sayur dimasukin ke dalam mobil. Saya masuk dan ngelanjutin tidur. Sampai di rumah, keadaan rumah kembali ricuh, karena ponakan-ponakan saya lagi bantuin abi bersihin bunga-bunga di depan rumah. Abi sepertinya sangat menikmati berkumpul dengan cucu-cucunya, sampai rela basah kuyup disiram mereka. Ooh, ntar waktu saya jadi seorang nenek haruskah saya basah-basahan dan pagi buta gini pergi ke pasar? Aaaaaaaah…….

Kamis, 03 Oktober 2013

Belajar Nulis

Kisah Random
By : Saya

“Back to you it always comes around, back to you…” walkman putih kecil berputar disamping kepala gue. Walkman gue namanya Jono. Bokapnya gue kasih nama Bono. Tapi Bono udah wafat bulan lalu, jatuh dari lantai tiga dorm gue.  Itu baru Bono, keinget kakek si Jono, tiga tahun lalu lebih sadis, wafat dihantam mobil nyokap. Riwayat walkman gue, nggak pernah wafat degan cakep. Jadi teori “Tidak ada yang abadi.”  bener banget. Bahkan, benda matipun bisa lebih nggak bernyawa.

Walkman gue nggak pernah protes gue puter dari malem sampe pagi. Padahal playlistnya cuma lima belas lagu, tapi nggak tau kenapa gue enjoy aja dengan lagu-lagu itu. Lagu-lagu yang nggak update, norak dan nggak berkembang. Dan gue percaya lima belas lagu itu adalah soundtrack hidup gue. 

“Jane, gue berenang dulu, jangan lupa bersihin kamar.”
“What the…? Oh, no Rem, lo otoriter banget sih!”
“Just do it, gerak dikit dong.” Remi tersenyum dan brak, ya, dia sudah menutup pintu.
“Oh, shit. Ini minggu dan gue….”

Ini minggu pagi, tapi hujan maksa penghuni dorm berbalut selimut, lampu lorong dorm juga masih dipaksa gunain aliran listrik terus-menerus. Dan yeah absolutely, ini maksa gue mengurung diri sendirian di dorm. Masih bertahan dengan gaya ngulet di kasur dan walkman masih berputar. Gue putusin untuk pake ini otak berfikir sedikit di minggu pagi. Satu jam, dua jam berlalu, dan akhirnya tiga jam berlalu masih nggak ada yang bisa gue fikirin.

“Oke, Jane, elo nggak bisa sia-siain minggu pagi ini.” Sambil ngangkat selimut dan ngencengin walkman, gue mulai bersihin kamar yang dihuni gue dan Remi.

Remi, cewek berambut pirang panjang sebahu. Dengan kulit putih kemerah-merahan, bibir asli mungil, dan bola mata coklat tajam yang nggak kan pernah bisa berpaling dari tatapan tajamnya. Itu dia senjata Remi dengan tatapan menyelidik mengungkap tabir hidup gue. Ya, Remi, 17 tahun dengan mantan pacar segudang, dan rekor terlama menyandang status jomblo selama tiga hari. Kita sahabatan dari sekolah dasar sampai sekarang, jadi baik burunya gue, Remi tau bener. Dan kita adalah couple beauty and beast. Bayangin aja, gue yang tinggi 160 cm, sangat kurus mendekati rapuh,  dengan kulit sawo matang, gigi gingsul, dan rambut ikal selalu diikat harus jalan dengan pengguna highheels setinggi 7 cm, dan gue sendiri pakai sneakers dengan warna tali nggak pernah sama. Gue penggila kemeja dan celana jeans yang tampak seperti jemuran berjalan, sedang Remi disamping gue, adalah penggila rok mini dengan blazer bewarna soft.  Faktanya, gue nggak bisa jadi seperfect Remi yang mencintai olahrga sedang gue mencintai ngemil  dan pasanganya, tidur. Dan fakta yang tidak pernah berubah adalah status gue jomblo belum pernah usai.

Tiba-tiba hape jadul gue, bunyi. Dan dengan mudah gue tebak ini pasti Remi yang minta gue bersihin sarang fotonya. Dan tebakan gue bener.

Hello, dear. Happy Sunday morning, jangan lupa bersihin sudut kamar. Foto diujung, gue rasa mulai banyak debu. Just clean it. And don’t forget to breakfast first, don’t eat too much.
-Your Sweetheart, Doremi-

“Oh, how dare you send such email to me, Rem?”. Remi cewek paling higenies sepajang zaman, nggak bakal biarin satu butir debu nempel pada benda sekecil apapun di kamar, tepatnya foto-foto dia bareng segudang mantannya. Dia korektor foto mantannya sendiri. Dan gue bilang itu adalah hal paling bodoh yang dia lakukan. Dan bodohnya gue, nurut sama Remi. And finally, this Sunday morning I just clean her stupid photos. Dan ketika gue bersihin foto-foto Remi, otak gue mulai berfikir.

 “Oh, Jane, how long has it been? Berapa lama elo ngejomblo?”

Ya, jomblo sepertinya adalah kutukan yang Tuhan beri untuk gue. Oh, God why You give me this way? Gue sendiri nggak pernah keberatan dengan status jomblo, yang bikin gue berat adalah ketika orang awam bertanya, “Kenapa jomblo? Elo betah sendiri segitu lamanya? Jangan-jangan elo udah nggak ngeh sama cowok. Elo nggak pengen apa ada yang ngucapin Good night, Have a nice dream, Hey, girl I miss you so bad, or Good morning just stay here with me? Atau emang nggak ada yang mau sama elo?” Kalo udah disuguhin rentetan pertanyaan itu, gue harus jelasin dari awal bahwa gue jomblo baik-baik aja, gue masih tertarik sama cowok, dan siapa sih yang nggak pengen diucapin rentetan kata tadi. Gue pengen, dan ketika gue pengen, gue bisa nyambet siapa aja, karena jomblo itu bukan nasib. Jomblo is choice.
***
Jomblo is choice, pernah suatu waktu gue milih untuk nggak ngejomblo. Dan akhirnya, gue mulai dengan bermain di dunia maya. Such as facebook, twitter, omegle, and blog. Dan berhubung gue adalah imajinator handal, gue suka nongol di blog dan alhasil menulis banyak cerita random. Boro-boro ada yang ngelike blog gue, ada yang mampir aja mustahil. Dan hingga tiba saatnya Tuhan memeberikan jalannya untuk mempertemukan gue dengan anymous. “Keep writing ya, your pure story is big miracle from God.”-anymous. Anymous adalah seseorang yang gue tekanin dia maya, dia adalah angin segar bagi blog gue. Dan menurut Remi, kekaguman atau hubungan melalui dunia maya tidak akan pernah berhasil.
Oh, no no no. God gives His way. And what? Di Gmail gue ada inbox, dari alamat email yang nggak gue kenal.

From       : Josh_Nasution@gmail.com
To            : Jane_Andina_Putri@gmail.com
Subject   : Nope
Hello, Jane. Gue Josh, gue anymous waktu itu di blog lo. Gue rasa tulisan lo bikin candu. Let’s chatching up, let’s share your story.
-JN-

From       : Jane_Andina_Putri@gmail.com
To            : Josh_Nasution@gmail.com
Subject   : Nope
Hai, orang asing. Hai, anymous. Oh, Hai, Josh.  Candu? Don’t give bulshit words like that. Tulisan dari imajinator handal, yang terjebak dalam ketidaktahuan mimpinya. Ajakan lo buat chatching up, let’s do it. Not bad idea, I think.
-JA-

Berawal dari surat elektronik, gue mulai chatching up dengan Josh, mulai jadi pecandu dunia maya. Gue dan Josh just enjoy this way. Josh nggak pernah nuntut kita janjian di suatu tempat. Dan gue juga cukup dengan keadaan ini. Josh mulai bercerita tentang mimpinya sebagai ilmuan. Obsesinya mendalami atom dan bagiannya, mulai ngebawa gue hanyut pada keindahan teori-teori kuantum. Josh bilang ke gue, bagian terkecil partikel adalah atom. Dia adalah bagian paling mandiri dan pembuktian  atas penciptaan Tuhan pada partikel yang lebih besar. Josh juga cerita alasan dia mendalami atom adalah pencarian jati diri. Jati diri? Jati diri tentang kepercayaan, entah Ketuhanan, Keilmuan, dan Lingkungan.

Josh, Josh, Josh, Josh Nasution. Nama yang berbulan-bulan nempel di inbox gmail gue. Gue percaya ketika kita bertemu dengan seseorang yang bisa ngebuat kita berbagi cerita hingga lupa waktu, just keep him. Dan yeah, welcome to my jungle, Josh! Josh paling bisa nenangin gue yang mulai panik karena nggak punya mimpi. Gue yang selalu bertanya-tanya. “Gimana kalo tiba saat gue harus ngejar cita-cita, dan gue masih belum punya mimpi? Gimana ntar kalo gue udah kerja ternyata itu nggak sesuai dengan mimpi gue? Atau sampai mati gue nggak punya mimpi dan akhirnya gue hidup dengan zona aman gue?”. Dan Josh selalu bilang, “Ketidaktahuanmu itu yang mungkin akan membawamu pada mimpimu. Dan nggak setiap ketidaktahuan adalah kebodohan, bisa jadi ketidaktahuan adalah bentuk keindahan.” Obrolan gue dan Josh mulai dari yang penting sampai tidak penting, menjadi topic yang nggak pernah habis untuk dibahas. Meski ada keheningan diantara kita, gue dan Josh menganggap kita saling berbicara tanpa harus mencari-cari apa yang akan kami bicarakan. Tiap hari kami cathching up dan akhirnya, kami jadian. Ya, gue udah nggak ngejomblo lagi.

“Oh, hell! Hello, Jane. Elo belom pernah ketemu sama dia dan elo uda nerima dia? Crazy!”, Remi melotot ngeliat email jadian gue dengan Josh.
 “Oh, come on, Rem. Jadian nggak harus ketemuan kan? Jangan kaku gitu dong. Buktinya banyak yang happy ending lewat dunia maya, akhirnya mereka menikah and have a good life together.”
“Banyak yang happy ending, nggak menutup kemungkinan banyak juga yang sad ending kan?”
“Yeah, maybe you right. I hope our love is the kind that is quiet on the outside but loud on the inside.”
“Dear, just meet him. And don’t life at bulshit world.”
“It’s real, Rem. I know that I’m the best imajinator, but…”
“Just meet him, Jane. It’s difficult to you?”

It’s difficult to me? Sebenernya enggak sulit untuk ketemu dengan Josh, bahkan dengan status gue yang udah jadian sama dia. Tapi entah kenapa gue belum siap aja ketemu sama dia. Gue dilanda perasaan bingung. Dan Remi terus maksa gue untuk ketemuan dengan Josh. Ini ngebuat gue nggak mau hubungin Josh beberapa hari.

Bukannya udah ada lirik “jauh di mata, dekat di hati,” jadi buat apa gue ketemu dia? Yang terpenting dalam menjalin hubungan adalah satu frekuensi hati. Iya kan? Gue mulai bermain-main dengan teori yang gue buat sendiri. Dan oh yeah, gue harus kembali pada realita, gue emang perlu bertemu, mungkin entar ada sesuatu yang nggak gue lihat sebelumnya, dan akhirnya gue bisa ngelihatnya. Mungkin?

From       : Jane_Andina_Putri@gmail.com
To            : Josh_Nasution@gmail.com
Subject   : Nope
Hello dear, I miss you so bad. Sorry, kemarin sempet lost contact. You know lah, dorm life. Yeah? Boy, let’s meet in Starbucks, tomorrow at 5 o’clock. Can you?
-JA-

From       : Josh_Nasution@gmail.com
To            : Jane_Andina_Putri@gmail.com
Subject   : Nope
Oh, hai, dear. Starbucks 5 o’clock? Okay, gue pake baju merah. Gue reservasi tempat di bangku nomor 7. I’m waiting for you..
-JN-

Ya, Starbucks 5 o’clock gue udah stand by di sana satu jam sebelumnya. Dan Josh datang, tapi dia belum ngelihat gue. Gue bingung kenapa gue cuma ngintip dia dari lantai atas, dan gue enggan turun. Dia nggak sesuai dengan yang gue harapin? Enggak, dia perfect, Josh dengan badan setinggi 170 cm, dengan wajah Rusianya yang melekat bukan laki-laki yang buruk rupa. Dan gue patut bersyukur Tuhan ngirim Josh untuk gue.

Gue mutusin balik ke dorm, dan gue cerita tentang pertemuan gue yang gagal total dengan Josh. Gue udah yakin ekspresi muka Remi saat gue cerita kejadian ini, bola matanya membelalak dan hampir keluar. Dan gue benar. Ekspresi Remi, sama persis dengan dugaan gue. Ini sama seperti prajurit yang mati sebelum berperang, alhasil gue cuma diem dan menerima dengan pasrah segala bentuk omelan Remi.

Wajar, Josh bertanya kenapa gue nggak dateng. Dan dia nerima dengan baik alasan gue yang cukup nggak masuk akal. Oh, God. Terima kasih sudah mengirim Josh buat gue.  Kami reschedule planning kami. Di tempat yang sama dan jam yang sama, gue bikin janji dengan Josh.

Josh datang dengan warna baju yang sama dan gue tetep di lantai atas ngintipin dia. Butuh waktu yang lama buat gue untuk turun ke lantai bawah. Dan akhirnya setelah 2 jam berfikir, gue putusin untuk nggak jadi pecundang. “Jane, just forward, just do this way.” Aneh, aneh, kaki gue seperti tertahan beton. Gue nggak bisa jelasin.  Ini semacam some things are the way they are and words just can’t explain.  Udah sampai di tangga terakhir, gue nggak ngelihat pundak Josh lagi. Ya, Josh menghilang. Gue sadar, saat gue sibuk nunduk nurunin tangga, Josh keluar dari Starbucks. Entah kenapa, ada perasaan lega dan ya, menyesal.
Gue balik ke dorm, dan banting badan gue ke kasur. Remi nggak tanya, dia nampak sudah yakin pertemuan gue dengan Josh gagal lagi. Dan hape jadul gue bordering. Ya, Josh nelfon gue.
“Jane?”
“Oh, hai, Josh.”
“What’s happen?”
“Nothing.”
“Oh, Jane..”….”Josh..”
“Okey, you first.”
“Sorry..”
“For what?”
“I don’t know.”
“Uhm, Jane. Sorry, gue ngerasa elo nggak pengen ketemu gue.”
“Jane…”
“I don’t know, Josh. It’s happen.”
“Yeah, I understand. The best way, nggak usah ketemu dulu deh, Jane.”
“Enggak, Josh. Besok kita ketemu ya, at the same place and time.”
“Are you okay?”
“Yeah. I’m okay.”

Josh nutup telfonnya. Dan gue pasrah, cuma mandang langit-langit kamar. Gue pengen nangis, tapi ini bener-bener di luar karakter gue. Oh, God, nggak mungkin kan gue nangis buat masalah begini doang. Kami belum pernah bertemu? Dan kenapa harus cry? Ini nggak masuk akal. Gue coba narik lagi air mata gue.
Remi nggak tahan ngeliat gue yang koleps begini. Dengan cekatan dia meluk gue. “Girl, don’t tell me why, don’t tell me how, just cry, just huge me, strong girl kan?” Ah, Remi how sweet you are, kenapa elo selalu buat hati gue luluh, Rem. Elo bener-bener playgirl sejati.

Remi maksa untuk ikut gue ketemu Josh. Dan segala keinginannya harus diturutin. Ya, Remi nemenin gue ketemu Josh. Josh dengan baju yang sama, tempat yang sama dan jam yang sama. Dan gue? Ya, tetap di lantai atas, bedanya, kali ini ada Remi. Gue mulai goyah lagi, dan gue mutusin balik ke dorm. Tapi Remi narik tangan gue dan mulai natap mata gue dengan penuh paksaan. Gue nolak tarikan Remi. “Hey, Jane. Why? Elo ngerasa nggak pantes untuk Josh?”

Ngerasa nggak pantes? Mungkin? Remi seperti baru aja ngehantam gue pake golok yang lansung nancep di jantung gue. Entah kenapa aliran darah gue lansung tercekat. “Oh, Rem.. Kenapa argument seperti itu?” ucap gue dalam hari. Gue natap Remi dengan nahan air mata gue. Remi tau, saat itu gue pengen nangis, dan ya, gue lepas genggaman Remi sekenceng-kencengnya dan lari balik ke dorm. Iya, gue ngerasa nggak pantes.  

From       : Jane_Andina_Putri@gmail.com
To            : Josh_Nasution@gmail.com
Subject   : Nope
Josh, sorry. Ya, akubilang sorry setiap waktu to you, but I can’t fix it. Ya, gue belum siap ketemu elo. Dan gue nggak siap jalani hubungan dunia maya ini.  Let me go on my own.
-JA-

From       : Josh_Nasution@gmail.com
To            : Jane_Andina_Putri@gmail.com
Subject   : Nope
Dear, Jane,  gue nggak tahu alasan elo belum siap. Okay, keep writing, keep in your happy life. Itu harapan gue. Maybe someday, I will come back and we will be two parts of the same thing. Maybe?
-JN-
***

Gue lost contact sama Josh because It easier and less painful that way. Gue nggak pernah mutusin Josh, sampai hari ini, setahun setelah Josh Nasution ngirim email itu. Nggak ada kata putus diantara kita. Karena gue nggak mau mutusin Josh, gue takut nyesel oneday. Gue cuma bilang nggak sanggup dan ya hubungan kami berakhir begitu saja.

Remi ngotot ngasih status jomblo buat gue. Layaknya jomblowan jomblowati yang lain, gue masih baik-baik saja sampai hari ini. Nggak pernah merana ngelewatin malem minggu gue di dorm. Nggak pernah kehilangan nafsu makan yang baik yang Tuhan anugrahi untuk gue.  Karena jomblo is choice. Dan gue tahu kenapa sampai sekarang gue belum lepas dari kata jomblo, gimana bisa gue dapet pasangan kalo mau ketemu gebetan aja kikuknya setengah mati? Oh, God. Salah gue apaan? Kenapa kutukannya harus semacam ini?
Hari minggu pagi sepi di dorm gue lewatin dengan bersih-bersih kamar bersama Jono, walkman gue. Dan hujan di luar masih ngehambat gue keluar kamar. Dan gue putuskan minggu pagi ini just stay in room with Jono. Dan hujan ini, “hallo Josh, hallo hujan, kamu berisik sekali, lebat sekali.”

Sekolah Kartini




Sekolah kartini? Ciee, muridnya Kartini, cie, emansipasi wanita banget. Bukan, bukan itu. Ceritanya nih  kenapa saya bisa nulis postingan di jam sekolah,beruntungnya hari ini saya lagi dalam kondisi fisik yang sangat buruk, seburuk cuaca di Malang. Bayangin, karena suatu virus yang menyebar melalui udara (baca:pilek) dan sesuatu yang saya tahan di kepala ( baca:pusing) menyebabkan saya harus di kamar saat ini, dengan kartini. Kartini, men (read:Putri) tapi ini suasana kamar saat ini sangat creepy, bayangin, Putri di atas bed sedang merajut mimpi dan saya mati kebosanan. Sumpah, ini membuat saya semacam frustasi. Di kamar yang cukup luas, penghuninya cuma dua dan yang hidup hanya satu orang. Akhirnya saya menulis postingan ini.

Oke, kembali ke topic. Kenapa ini judulnya Sekolah Kartini? Ini penyebabnya sepulang bimbel dan harus menyusuri jalan Bandung yang amat panjang kemarin, saya memikirkan betapa creepynya kelas saya yang isinya Kartini, nggak ada Kartono. Ketebak kan? Jadi, satu kelas isinya manusia – manusia yang diberi ilham oleh pencipta untuk memakai jilbab dengan warna yang sama, model yang sama. Ini diakibatkan madrasah saya lagi demam homogen. Alasannya untuk meminimalisir segala bentuk zina. Menurut buku Syekh Az-Zarnuji perbuatan zina dapat menyebabkan berkurangnya memori untuk mengingat pengetahuan. Karena pengetahuan atau ilmu itu adalah sesuatu yang suci. Bahkan, sebelum mempelajari ilmu-Nya kita dianjurkan untuk berwudlu, memuliakan yang memberi ilmu, dan memuliakan kitabanya. *mari kita tutup kultum ini*


Melihat kelas saya seperti kelas di sekolah Kartini, hal ini mengingatkan saya pada perjuangan Ibu Kartini dalam memperjuangkan pendidikan untuk wanita. 

Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Seperti Ibu Kartini yang terus berjuang demi Negaranya, maka saya juga nggak mau kalah dengan beliau. Oke, mungkin belum banyak yang bisa saya berikan untuk bangsa ini. Tapi setidaknya selama saya belum bisa kasih solusi untuk bangsa ini, saya tidak menjadi masalah untuk bangsa ini. Saya akan menjadi warga yang baik, pelajar yang baik, tentunya yang berusaha bangun negeri ini.

NB : Baru sempet ngepost, padahal udah lama banget nulis.